Navigation


RSS : Articles / Comments


Eforia Mahasiswa, Menyadari Peran dalam Masyarakat

1:22:00 PM, Posted by fakir ilmu, No Comment

Eforia Mahasiswa, Menyadari Peran dalam Masyarakat

Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi.

Hidup mahasiswa! Teriakan ini pernah familiar di telinga kita. Pada momen-momen tersebut kata-kata ini terdengung dengan sakral. Sebagai seorang mahasiswa yang terkenal dengan idealisme tinggi, kata-kata tersebut bisa menjadi tali pengikat idealisme itu ketika akan luntur.

Pernahkah kita mencoba berpikir tentang gelar mahasiswa yang saat ini kita sandang sebagai gelar bergengsi. Kata maha pada kosa kata ini berarti menunjukkan suatu hal yang seakan-akan tidak ada bandingannya. Mahasiswa menyibak suatu hal yang sangat berat.

Dalam hal makna, arti mahasiswa bukanlah posisi strata pendidikan yang dilakukan setelah lulus SMA. Namun ketika menginginkan makna ini agar jelas ada empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan, kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.

Sebagai seorang yang bergelut di bidang akademis yang bersifat keprofesian, amat kecil intensitas mahasiswa teknik bersentuhan langsung dengan komponen tadi. Sangat berbeda kondisinya bagi mereka yang bergelut di bidang sosial. Ini karena aplikasi perwujudan peran dan fungsi mahasiswa lebih nyata dan mudah.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, control kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta hal-hal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Harapan besar ditujukan pada para pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah para mahasiswa. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Banyak sekali tuntutan yang seharusnya ditujukan.

Masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Jika kondisinya berlawanan maka dapat dipastikan adanya konflik kecil yang bisa timbul di mahasiswa maupun masyarakat.

Masyarakat adalah sekumpulan populasi dengan beragam karakter. Banyak sekali aspek sosial yang harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan yang rentan memicu konflik.

Di sinilah peran mahasiswa. Kontrol dari kondisi kondisi sosial merupakan implementasi nyata mahasiswa untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat. Memanfaatkan media sangat atraktif bila diterapkan.

Jika menyadari peran dalam masyarakat sewajarnya mahasiswa menjadi harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.

rajin-rajinlah nge-blog nggak ada salahnya kok...

Eforia Mahasiswa, Menyadari Peran dalam Masyarakat

1:22:00 PM, Posted by fakir ilmu, No Comment

Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi.

Hidup mahasiswa! Teriakan ini pernah familiar di telinga kita. Pada momen-momen tersebut kata-kata ini terdengung dengan sakral. Sebagai seorang mahasiswa yang terkenal dengan idealisme tinggi, kata-kata tersebut bisa menjadi tali pengikat idealisme itu ketika akan luntur.

Pernahkah kita mencoba berpikir tentang gelar mahasiswa yang saat ini kita sandang sebagai gelar bergengsi. Kata maha pada kosa kata ini berarti menunjukkan suatu hal yang seakan-akan tidak ada bandingannya. Mahasiswa menyibak suatu hal yang sangat berat.

Dalam hal makna, arti mahasiswa bukanlah posisi strata pendidikan yang dilakukan setelah lulus SMA. Namun ketika menginginkan makna ini agar jelas ada empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan, kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.

Sebagai seorang yang bergelut di bidang akademis yang bersifat keprofesian, amat kecil intensitas mahasiswa teknik bersentuhan langsung dengan komponen tadi. Sangat berbeda kondisinya bagi mereka yang bergelut di bidang sosial. Ini karena aplikasi perwujudan peran dan fungsi mahasiswa lebih nyata dan mudah.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, control kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta hal-hal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Harapan besar ditujukan pada para pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah para mahasiswa. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Banyak sekali tuntutan yang seharusnya ditujukan.

Masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Jika kondisinya berlawanan maka dapat dipastikan adanya konflik kecil yang bisa timbul di mahasiswa maupun masyarakat.

Masyarakat adalah sekumpulan populasi dengan beragam karakter. Banyak sekali aspek sosial yang harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan yang rentan memicu konflik.

Di sinilah peran mahasiswa. Kontrol dari kondisi kondisi sosial merupakan implementasi nyata mahasiswa untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat. Memanfaatkan media sangat atraktif bila diterapkan.

Jika menyadari peran dalam masyarakat sewajarnya mahasiswa menjadi harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.


rajin-rajinlah nge-blog nggak ada salahnya kok...

Eforia Mahasiswa, Menyadari Peran dalam Masyarakat

1:22:00 PM, Posted by fakir ilmu, No Comment

Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi.

Hidup mahasiswa! Teriakan ini pernah familiar di telinga kita. Pada momen-momen tersebut kata-kata ini terdengung dengan sakral. Sebagai seorang mahasiswa yang terkenal dengan idealisme tinggi, kata-kata tersebut bisa menjadi tali pengikat idealisme itu ketika akan luntur.

Pernahkah kita mencoba berpikir tentang gelar mahasiswa yang saat ini kita sandang sebagai gelar bergengsi. Kata maha pada kosa kata ini berarti menunjukkan suatu hal yang seakan-akan tidak ada bandingannya. Mahasiswa menyibak suatu hal yang sangat berat.

Dalam hal makna, arti mahasiswa bukanlah posisi strata pendidikan yang dilakukan setelah lulus SMA. Namun ketika menginginkan makna ini agar jelas ada empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan, kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.

Sebagai seorang yang bergelut di bidang akademis yang bersifat keprofesian, amat kecil intensitas mahasiswa teknik bersentuhan langsung dengan komponen tadi. Sangat berbeda kondisinya bagi mereka yang bergelut di bidang sosial. Ini karena aplikasi perwujudan peran dan fungsi mahasiswa lebih nyata dan mudah.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, control kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta hal-hal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Harapan besar ditujukan pada para pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah para mahasiswa. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Banyak sekali tuntutan yang seharusnya ditujukan.

Masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Jika kondisinya berlawanan maka dapat dipastikan adanya konflik kecil yang bisa timbul di mahasiswa maupun masyarakat.

Masyarakat adalah sekumpulan populasi dengan beragam karakter. Banyak sekali aspek sosial yang harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan yang rentan memicu konflik.

Di sinilah peran mahasiswa. Kontrol dari kondisi kondisi sosial merupakan implementasi nyata mahasiswa untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat. Memanfaatkan media sangat atraktif bila diterapkan.

Jika menyadari peran dalam masyarakat sewajarnya mahasiswa menjadi harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.



rajin-rajinlah nge-blog nggak ada salahnya kok...

KAMPUS

12:46:00 PM, Posted by fakir ilmu, No Comment

Kampus merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat anggota masyarakat yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, dan tentunya mahasiswa. Atau dari segi suku, di dalam kampus tentunya tidak hanya ada satu suku yang mendiaminya, ada banyak suku. Demikian pula dari segi agama, masyarakat sebagian besar kampus memiliki agama yang berbeda-beda. Heteregonitas ini mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai dengan kapasitas siapa yang yang kita hadapi

Ada agenda tahunan yang diadakan oleh kampus, yaitu penyambutan mahasiswa baru. Ada mahasiswa baru, berarti ada proses saling perkenalan secara massal. Dan kehadiran mahasiswa baru inilah yang membedakan kampus dengan model masyarakat kecil lainnya. Kedatangan mahasiswa baru selalu ada setiap tahun, sedangkan dalam model masyarakat lainnya mungkin tidak demikian. Kehadiran mahasiswa baru umumnya disambut oleh kegiatan kampus yang biasa disebut sebagai ospek.

Ospek di Indonesia sudah terlanjur dikonotasikan dengan kegiatan perpeloncoan. Di dalam sebuah ospek hampir selalu ada yang namanya ‘mengerjai’ anak baru, hukuman dan ‘penindasan’. Bahkan ada yang mencapai pada taraf benturan fisik, misalnya ketika sampai jatuhnya korban nyawa seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Ospek tersebut dilakukan dengan alasan agar mahasiswa baru lebih mengenal kampusnya, mengenal seniornya, lebih akrab, dan sebagainya. Peraturan yang sering timbul di dalam ospek adalah :

1. Kakak senior selalu benar.
2. Jika kakak senior salah, maka lihat peraturan nomor satu.

Dan setelah ospek berakhir, biasanya mahasiswa baru diwajibkan membentuk kepanitiaan untuk mengadakan malam inagurasi (untuk keakraban). Tujuannya mungkin bagus untuk keakraban, tapi kenyataannya seringkali tidak lebih dari penghambur-hamburan uang dan foya-foya. Demikianlah ospek yang tidak mendidik, kadang lebih cenderung mencerminkan gaya-gaya anarkis dan militerisme. Sungguh kontradiksi dengan demo-demo mahasiswa yang seringkali bersuara tolak militerisme dan anarkisme.

Sebagai mahasiswa yang intelektual dan berakal sehat, harus memandang kehadiran mahasiswa baru dari sisi positifnya. Dan sebagai mahasiswa yang bermoral, kita harus memandang mahasiswa baru sebagai generasi yang harus diselamatkan, aqidahnya, ibadahnya, akhlaqnya, dan intelektualitasnya.

Kedatangan mereka yang setiap tahun ini sebenarnya memudahkan lembaga dakwah kampus untuk mengatur agenda-agendanya, terutama dalam hal usaha memberi pencerahan kepada setiap generasi (baca: dakwah untuk setiap angkatan) di kampus.

Bagi kita, mahasiswa baru bukanlah sebagai ‘korban baru’ yang siap dikerjai. Kehadiran mereka memiliki arti positif bagi kita.



rajin-rajinlah nge-blog nggak ada salahnya kok...